======================================================================================
'✿'ܓ♥ ..........ᗩᔕᔕᗩᒪᗩᗰᑌᗩᒪᗩIKᑌᗰ.......♥ '✿'ܓ

( : . . . sebarkanlah walau hanya satu ayat . . . : )

- tidak ada hakcipta terpelihara untuk iLmu yang dataNgnya daRi yaNg Maha Esa. bahkan kita dituNtut uNtuk meNyebarkaN apa yaNg kita taHu. maKa, sEbarkanLah apa saJa yaNg aNda fikiRkan perLu disebarkAn. tidaK perLu liNk keMbali atau miNta iZin. apa yaNg aNtum baCa di siNi hanyaLah maKlumat. ianyA akaN meNjaDi iLmu yaNg bermaNfaAt apaBiLa diAmaLkan. dan jIka kita saMpaikaN iLmu yaNg kita ada kePada oraNg lain, maKa Allah akan meNganugerahkan kepaDa kita iLmu yaNg belum kiTa taHu..

(: syUkran jaZila atas kuNjungaN dan seMoga Allah teMukan kita di syurgaNya yaNg aBaDi.. aMin :)

======================================================================================

syarat2 bermaksiat

Suatu hari ada seorang lelaki yang menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, “Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat.”
Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata, “Jika kamu mahu menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka bolehlah kamu melakukan maksiat.”

     Lelaki itu dengan tidak sabar-sabar bertanya, “Apakah syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?”Ibrahim bin Adham berkata, “Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya.”Mendengar itu dia mengenyitkan kening seraya berkata, “Dari mana aku mahu makan? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah?”“Ya!” tegas Ibrahim bin Adham. “Kalau kamu sudah memahaminya, masih mampukah memakan rezekinya, sedangkan kamu selalu berkeinginan melanggar laranganNya?”

    “Yang kedua,” kata Ibrahim, Kalau mahu bermaksiat, jangan tinggal di bumiNya!”
Syarat ini membuat lelaki itu terkejut setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, fikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezekiNya dan tinggal di bumiNya, sedangkan kamu melanggar segala laranganNya?”
“Ya! Anda benar.” kata lelaki itu.

     Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab, “Kalau kamu masih mahu bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat olehNya!”
Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, “Wahai Ibrahim, ini nasihat macam mana? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?”

“Ya, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan melakukan maksiat?” kata Ibrahim

    Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat. Ibrahim melanjutkan, “Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu, katakanlah kepadanya; Ketepikan kematianku dulu. Aku masih mahu bertaubat dan melakukan amal soleh.”
Kemudian lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersedar, “Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permintaanku?” “Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahawa kamu tidak boleh menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau boleh lari dari kemurkaan Allah?”

“Baiklah, apa syarat yang kelima?”

     Ibrahim pun menjawab, “Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak mengiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau ikut bersamanya.”
Perkataan tersebut membuat lelaki itu insaf. Dia berkata, “Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya.”

     Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. “Mulai saat ini aku bertaubat kepada Allah.” katanya sambil terisak-isak.

Allahu a’lam bisshawab.
semoga apa yang di kongsikan ini bermanfaat.. kalo suke like ek =)

kisah seorang sahabat


Hari itu ada seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jika ada sahabat meninggal dunia, Rasulullah pasti menyempatkan diri mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, Rasulullah menye...mpatkan diri singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musbah itu. Begitupun terhadap keluarga sahabat yang satu ini.

Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”

Sang istri yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”

Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah lagi.

Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi..., Andaikata yang masih baru ..., Andaikata semuanya ...’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian agar tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan hanya istri almarhum saja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai.
“Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya. Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan pahala amal shalihnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya adalah andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.”

Semua anggota keluarga itu sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran saja.

Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat Subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suaminya membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang tengah dikenakannya dan diberikan kepada si lelaki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”

“Kemudian, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” tanya sang istri lagi.

Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingkatkah engkau ketika pada suatu waktu suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberi hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda pula.’”

Sekarang, semua anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka ketika akan menjelang wafatnya. Kelapangan telah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk menolong dan memberi

semoga apa yang di kongsikan ini bermanfaat.. kalo suke like ek =)

nasihat Nabi saw kpd Ali a.s

Wahai Ali, bagi orang ‘ALIM itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Jujur dalam berkata-kata.
2) Menjauhi segala yang haram.
3) Merendahkan diri.

Wahai Ali, bagi orang yang JUJUR itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Merahsiakan ibadahnya
2) Merahsiakan sedekahnya.
3) Merahsiakan ujian yang menimpanya.

Wahai Ali, bagi orang yang TAKWA itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Takut berlaku dusta dan keji.
2) Menjauhi kejahatan.
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.

Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda-tandanya:
1) Mengawasi dirinya.
2) Menghisab dirinya.
3) Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.

Semoga diberi taufiq dan hidayah untuk kita memiliki kesemua sifat-sifat tersebut amiin…

semoga apa yang di kongsikan ini bermanfaat.. kalo suke like ek =)

esoklah !

Kisah untuk renungan bersama... Katakan sekarang... jgn tunggu sampai esok... Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu menganggap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, mengganggu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.

Apabila dia menyedari akan kesalahannya dan mahu minta maaf, dia selalu berkata,"Tidak apa-apa, besok kan boleh." Sesudah besar, dia amat suka kesekolah. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar saja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaik dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan boleh."

Ketika meningkat remaja, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Baginya itu bukanlah masalah, kerana dia masih punyai ramai teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, jalan-jalan dan macam2 lagi. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatkannya menjadi sibuk. Dia bertemu seorang gadis yang sangat cantik dan baik. Gadis itu kemudian menjadi teman wanitanya.Dia begitu sibuk dengan kerjanya, kerana dia ingin di naikkan pangkat ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan selalu lewat menelefon mereka. Dia selalu berkata, "Ah, aku penat, besok saja aku hubungi mereka." Ini tidak terlalu mengganggu dia kerana dia punyai teman-teman sekerja selalu mahu apabila diajak keluar.

Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelefon teman-temannya. Setelah dia berkahwin dan mempunyai anak, dia bekerja lebih kuat untuk memberi kebahagiaan pada keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk isterinya, atau pun mengingati hari lahir isterinya dan juga hari perkahwinan mereka. Itu tidak mendatangkan masalah baginya, kerana isterinya selalu mengerti, dan tidak pernah menyalahkannya.

Kadang-kadang dia merasa bersalah dan ingin punyai kesempatan untuk mengatakan pada isterinya "Aku cinta pada mu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok saya akan mengatakannya."

Dia tidak pernah bersama di majlis harijadi anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan mempengaruhi anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhkan diri darinya, dan tidak pernah menghabiskan waktu mereka bersama dengan ayahnya.

Suatu hari, isterinya ditimpa kemalangan, isterinya dilanggar lari. Ketika kejadian itu, dia sedang ada mesyuarat. Kemalangan itu adalah serius dan dia tidak sedar bahawa kemalangan itu bakal menjemput isterinya menemui yang maha mencipta. Belum sempat dia berkata "Aku cinta pada mu", isterinya telah meninggal dunia. Remuk hatinya apabila ini berlaku dan dia cuba menghiburkan diri bersama anak-anaknya setelah kematian isterinya.

Tapi, dia baru sedar bahawa anak-anaknya tidak mahu berkomunikasi dengannya. Apabila anak-anaknya dewasa dan membina keluarga masing-masing. Tidak ada yang peduli pada orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Masa berjalan begitu pantas, orang tua ini tinggal di rumah jagaan yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan wang yang disimpannya dari mula untuk perayaan ulang tahun perkahwinan ke 50, 60,dan 70. Pada asal tujuan wang itu adalah untuk digunakan pergi bercuti ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama isterinya,
tapi kini terpaksa digunakan untuk membayar biaya tinggal di rumah jagaan tersebut. Sejak dari itu sehinggalah dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan penjaga yang merawatnya. Dia merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Semasa dia hendak meninggal, dia memanggil seorang penjaga dan berkata kepadanya, "Ah, jika aku menyedari perkara ini dari dulu..." Kemudian perlahan ia menghembuskan nafas terakhir. Dia meninggal dunia dengan airmata dipipinya.



MORAL :
Apa yang saya ingin katakan pada kawan-kawan dan juga pada diri saya sendiri, waktu itu tidak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju,sebelum benar-benar menyedari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.

Jika anda pernah bertengkar, segera berbaik antara satu sama lain !

Jika anda merasa ingin mendengar suara teman anda, jangan ragu-ragu untuk menelefonnya segera.

Akhir sekali, tapi yang paling penting, jika anda merasa ingin mengatakan pada seseorang bahawa anda sangat sayang pada dia, jangan tunggu sampai terlewat. Jika anda terus berfikir bahawa masih ada lain hari baru anda akan memberitahu dia, hari itu tidak pernah akan datang.

Jika anda selalu fikir bahawa besok akan datang, maka "besok" akan pergi

sungguh dengan begitu cepat hingga anda baru sedar bahawa waktu telah tinggalkan anda.

semoga apa yang di kongsikan ini bermanfaat.. kalo suke like ek =)